Highlights

Kegiatan Kumpul Jumat (KUMAT) STT Ekumene Jakarta – Rekonstruksi Peran Guru di Era Digital

image2
Berita

Kegiatan Kumpul Jumat (KUMAT) STT Ekumene Jakarta – Rekonstruksi Peran Guru di Era Digital

Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta melalui Bidang Akademik kembali menyelenggarakan kegiatan Kumpul Jumat (KUMAT) dengan menghadirkan Dr. Herman Pakiding sebagai narasumber. Kegiatan kali ini mengangkat tema “Rekonstruksi Peran Guru di Era Digital: Menumbuhkan Berpikir Kritis di Tengah Arus Informasi dan Disinformasi.” Tema tersebut diangkat sebagai respons terhadap perkembangan teknologi digital yang membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya peran pendidik dalam membentuk generasi yang kritis dan bijak di tengah derasnya arus informasi.

Dalam pemaparannya, Dr. Herman Pakiding menjelaskan bahwa kemudahan akses informasi digital tidak selalu diikuti oleh kemampuan masyarakat dalam memilah dan mengevaluasi kebenaran informasi. Kehadiran media sosial, mesin pencari, serta kecerdasan artifisial generatif turut menghadirkan tantangan berupa misinformasi dan disinformasi. Kondisi ini menuntut dunia pendidikan untuk tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis peserta didik. Oleh karena itu, guru perlu berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam memproses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara rasional serta etis.

Lebih lanjut, materi membahas tiga rekonstruksi peran guru di era digital, yaitu sebagai kurator dan validator informasi, arsitek ekosistem berpikir kritis, serta pembimbing etika intelektual. Sebagai kurator informasi, guru mengarahkan siswa untuk memeriksa kredibilitas sumber dan melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima. Guru juga perlu menciptakan ruang pembelajaran yang mendorong dialog, pengujian asumsi, serta penyusunan argumentasi berdasarkan bukti. Selain itu, guru memiliki tanggung jawab menanamkan integritas akademik, empati digital, dan kesadaran dalam menggunakan serta membagikan informasi.

Kegiatan ini turut membahas strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, di antaranya Problem-Based Learning (PBL), Inquiry-Based Learning, dan penerapan Higher-Order Thinking Skills (HOTS). Melalui pendekatan tersebut, peserta didik didorong untuk mengidentifikasi permasalahan, menganalisis informasi, serta menyusun kesimpulan berdasarkan bukti yang relevan. Narasumber juga menyoroti tantangan pendidik, seperti beban administrasi, kesenjangan literasi digital, dan budaya belajar instan di kalangan siswa. Sebagai langkah adaptif, guru dapat mengembangkan asesmen berbasis portofolio kritis, komunitas belajar, serta kegiatan pemeriksaan fakta dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan KUMAT berlangsung dengan baik dan interaktif, memberikan ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk memperluas wawasan serta bertukar pandangan mengenai tantangan pendidikan di era digital. Berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan memperoleh respons positif dari peserta, baik dari aspek kemanfaatan materi, relevansi pembahasan, maupun ketepatan media dan sarana yang digunakan. Kinerja narasumber juga mendapatkan penilaian positif, khususnya dalam aspek penguasaan materi dan kemampuan menyampaikan pembahasan. Melalui kegiatan ini, STT Ekumene Jakarta berharap budaya diskusi akademik, literasi keilmuan, dan kemampuan berpikir kritis terus berkembang dalam mempersiapkan pendidik yang adaptif, berintegritas, dan bertanggung jawab.

Pencarian

Kategori

Tag Populer