KUMAT STT Ekumene Jakarta: Formasi Warga Digital Kristen di Era Budaya Populer Digital
September 23, 2026 2026-10-26 14:33KUMAT STT Ekumene Jakarta: Formasi Warga Digital Kristen di Era Budaya Populer Digital
Kumpul Jumat (KUMAT) kembali menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bersama bagi sivitas akademika STT Ekumene Jakarta. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, kegiatan ini menghadirkan Dr. Andries Yosua sebagai narasumber dengan tema “Formasi Warga Digital Kristen di Era Budaya Populer Digital dalam Perspektif Liturgical Formation dan Public Ecclesiology.” Tema tersebut mengangkat pembahasan mengenai hubungan antara kehidupan iman Kristen, budaya populer digital, dan perkembangan teknologi dalam masyarakat. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk melihat kembali bagaimana kehidupan Kristen dibentuk dan dijalani dalam lingkungan digital yang terus berkembang.
Dalam pemaparannya, pembahasan mengenai formasi warga digital Kristen memberikan ruang bagi peserta untuk memahami pengaruh budaya digital terhadap cara individu berpikir, berinteraksi, dan menjalankan kehidupan beriman. Perkembangan media digital telah menghadirkan berbagai bentuk komunikasi dan partisipasi yang turut memengaruhi kehidupan komunitas Kristen. Kondisi ini menuntut adanya refleksi mengenai bagaimana teknologi digunakan secara bijaksana dan bagaimana nilai-nilai iman diwujudkan dalam ruang digital. Oleh karena itu, pemahaman terhadap budaya digital menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan kehidupan Kristen masa kini.
Perspektif Liturgical Formation dan Public Ecclesiology menjadi bagian penting dalam pembahasan tema KUMAT kali ini. Kedua perspektif tersebut membuka ruang untuk merefleksikan hubungan antara pembentukan kehidupan iman, praktik keagamaan, dan keberadaan komunitas Kristen di tengah masyarakat. Peserta diajak untuk mempertimbangkan bagaimana kebiasaan digital dapat memengaruhi pola keterlibatan dalam komunitas serta pemaknaan terhadap praktik kehidupan beragama. Pembahasan ini juga mendorong pemikiran kritis mengenai peran gereja dalam merespons perubahan budaya dan perkembangan teknologi.
Sebagai ruang akademik, KUMAT tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah bagi sivitas akademika untuk berdiskusi dan bertukar perspektif. Kehadiran narasumber memberikan kesempatan bagi peserta untuk memperluas pemahaman melalui gagasan dan pengalaman yang dibagikan selama kegiatan. Proses pembelajaran semacam ini mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menanggapi persoalan yang berkaitan dengan kehidupan iman dan realitas sosial. Dengan demikian, KUMAT menjadi salah satu bentuk pembelajaran bersama yang menghubungkan kajian akademik dengan dinamika kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan KUMAT ini, STT Ekumene Jakarta terus mendorong terbentuknya lingkungan akademik yang terbuka terhadap perkembangan pemikiran dan tantangan zaman. Pembahasan mengenai formasi warga digital Kristen diharapkan dapat memperkaya pemahaman peserta tentang pentingnya menjalani kehidupan beriman secara reflektif dan bertanggung jawab di ruang digital. Kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat budaya belajar, berdiskusi, dan bertumbuh bersama di lingkungan kampus. Kiranya wawasan yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi sivitas akademika dalam memahami serta merespons dinamika kehidupan Kristen di era digital.